Pulau Sempu—ato orang-orang keren menyebutnya : ‘Sempu Island’—ditempuh dalam waktu satu jam dari kota kecil Turen di kawasan Malang selatan. Melewati jalanan sempit yang meliuk-liuk dan kurang aman lantaran tidak tersedianya pagar pembatas jalanan. Untungnya pagi itu langit masih cerah, bersahabat, dan dari atas gunung kita bisa melihat lembah kawasan kota Turen yang asri.
Sempet berpikir ‘aneh’ karena demi mencapai laut selatan, kenapa mesti capek-capek muter-muter di gunung kayak orang mabok. Seumur-umur gue tinggal di deket laut, baru kali ini ngerasain penderitaan jiwa dan batin (karena ngeri ngeliat ruas jalanan yang sempit dan ‘mengundang’ untuk ke alam maut) hanya untuk menikmati pesona laut dan bau amis di pinggir pantai. But, thanks to God, kami berhasil tiba di pantai Sendang Biru dalam keadaan selamat, aman, sentosa, dan tanpa embel-embel ‘oek-oek’ di sepanjang perjalanan.
Setibanya di Sendang Biru, adek bokap gue menyeret kami ke rumah pensiunan petugas restorasi pulo Sempu yang punya hubungan akrab dengan mendiang kakek gue. Dan gue teringat cerita bokap tentang kakek gue yang uda pengalaman dan apal seluk-beluknya Sempu.
“Pulau Sempu sih daerah kekuasaannya mbah waktu itu…”
Sempet gue ngerasa jadi cucunya kaisar Nero selama beberapa milisecond.
Di rumah kerabatnya mendiang kakek gue itu, kami cuma bertamu sebentar lantaran uda ga sabar untuk keliling-keliling Sendang Biru. Di luar sana, Pulo Sempu sudah berpose menantang untuk meminta dijelajahi oleh para pengunjung yang kebanyakan dari luar kota.
Dengan bantuan koneksi dari kerabat kakek gue itu, kami berhasil mendapatkan perahu sewa untuk menyeberang ke Sempu. Dengan harga 100 ribu rupiah untuk pergi-pulang, gue pikir itu harga yang cukup sesuai untuk tempat wisata di ujung Pulau Jawa (secara, Sempu bukan pulau milik Bali, dan—mungkin harganya akan melonjak sampe setengah juta kalo suatu hari Sempu diklaim jadi bagian pulau Dewata). Seandainya dulu kakek gue gak dikirim ke Pulo Sempu, ato beliau gak bersahabat dengan petugas restorasi itu, mungkin kami harus membayar sampai 300 ribuan demi menyeberang ke pulo Sempu.
Sebelum menyeberang, bokap sempet omong-omongan dengan petugas restorasi pulau Sempu yang gak gue ketahui namanya lantaran lambang-lambang di baju dinasnya udah memudarkan diri. Petugas itu menambahkan cerita serem sebelum mengantar kami ke tempat persewaan perahu.
“Tahun 2008 pernah ada kejadian, pak. Ada yang meninggal karena tenggelam di sana…”
Wussshhhh~~~
Akhirnya setelah masing-masing pihak sepakat, kami segera bergegas menuju tempat perahu dan bersiap menyeberang ke Pulo Sempu yang dalam bayangan gue seperti serpihan surga yang penuh dengan privatisasi, ketenangan, kesejukan, dan air yang jernih. Gue mengambil tempat duduk tepat di depan mesin diesel perahu—dan betapa gue menyesali keputusan tolol itu karena sesaat kemudian cuma terdengar suara ‘etek-etek-etek’ yang super kenceng di telinga gue. Orang-orang di samping gue berbicara gak jelas, cuma megap-megap kayak ikan keabisan napas, dan gue gak bisa kasih respon lain selain angguk-angguk ato geleng-geleng mirip miniatur doggie di mobil-mobil. Toh, gue juga gak ngerti apa yang mereka omongin dan apa yang gue jawab.
Pusing-pusing mikirin suara mesin diesel, otak gue tiba-tiba memunculkan playlist keren yang berjudul Club can’t handle me punya Flo Rida dan David Guetta. Trus ganti track ke Stand By Me-nya SHINEe yang ngisi soundtrack BBF pas adegan mereka pergi ke pulau pribadinya Goo Jun Pyo. Sempet ngerasa setengah norak, tapi, hey! Gak ada undang-undang yang melarang gue untuk merasa seolah-olah ada di luar pulau Jawa, iya ‘kan?!
Asli! Rute perahu ke pulau Sempu seharusnya cuma menyeberang secara vertikal yang mungkin dalam lima menit sudah sampai, tapi kali ini kami diputer hampir mendekati laut pantai selatan dan akhirnya mengambil rute di seberang pantai Sendang Biru yang sejak tadi kami singgahi. Rute yang ruwet, tapi setara dengan harga yang dibayar. J
Setibanya di pulo Sempu, gue cuma bisa cengar-cengir a la Justin Bieber (J) dan mendapati kenyataan yang tidak sesuai harapan. Pulo Sempu sudah disinggahi banyak orang, banyak anak kecil, dan bentuknya gak seperti yang di foto-foto turis lokal. This is not a paradiso island! Bahkan kami mendapat tempat untuk menggelar karpet di tumpukan batang kelapa yang mungkin bekas membakar ikan. Menyedihkan!
Sayangnya lagi, garis pantai di sepanjang pulo ternyata cuma sekian meter dan dibatasi dengan pohon-pohon yang melintang seenaknya. Uh! Okelah, seenggaknya gue masih bisa pamerin ke temen-temen kalo gue udah sampe di Sempu.
Gak banyak yang kami lakukan di sana, cuma makan rujak buah, ngeliatin pengunjung yang asyik lempar-lemparan pasir, kakek-kakek tua yang ngelatih suara seriosanya sambil berendam di laut (Oom gue bilang, jangan sampe Nyi Loro Kidul bangun dari tidurnya gara-gara denger suara orang itu), anak-anak yang manjat pohon, nangkep ikan kecil-kecil, dan sebagainya. Gue sendiri gak ada keinginan untuk berenang karena lautnya kurang ‘menantang’ jika dibandingin di pantai Kuta. :p
Dari Sempu, tampak pulau-pulau tak berpenghuni di seberang, masih hijau dengan pepohonannya yang kaya macam dan jernih tanpa ada asap kendaraan bermotor. Air laut yang berwarna kehijauan juga turut menambah sedap pemandangan langka yang gak mungkin ditemui di Surabaya (ataupun Sidoarjo). Aslinya, tempat ini bisa jadi tempat sempurna untuk melahap habis The Flames of Rome yang baru gue beli beberapa hari yang lalu, tapi setelah banyak berpikir tentang cipratan air laut dan butir-butir pasir yang sanggup merusak benda favorit gue itu, akhirnya gue putuskan untuk meninggalkan buku itu di jok mobil di seberang sana.
Yah, memang gak banyak yang kami lakuin selama di Sempu, bengong-bengong gak jelas, foto-foto, manjat pohon (sampe akhirnya gue menjatuhkan diri—berlagak jadi superhero—yang langsung bikin pinggang gue encok, ngilu sampe gue menulis cerita ini), duduk-duduk nunggu dijemput perahu, ngerendem kaki di air laut, denger musik, melamun, cengar-cengir tebar pesona ke pengunjung yang baru datang, dan sebagainya-dan sebagainya. Tepat pukul setengah satu siang perahu yang tadi melempar kami ke Sempu, datang dan kembali mengangkut kami ke pantai Sendang Biru di seberang sana. Rutenya kali ini jauh lebih singkat karena menerapkan prinsip yang gue pikirkan tadi, sekali nyeberang dengan rute vertikal!
Berhubung pinggang gue sakit—gue jadi males keliling-keliling dan ngapa-ngapain lagi. Pikiran di otak gue cuma satu, kasur dan bantal di rumah, lalu segera cabut ke BNS. Yuhuuu! Tapi nyokap gue minta dianterin ke pasar ikan yang letaknya bersebelahan dengan Pantai Sendang Biru. Karena gue juga termasuk penggemar ikan, gue setuju dan ikut memohon pada bokap untuk mampir ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Setibanya di sana, pasar sudah dalam keadaan sepi, tapi masih ada pedagang-pedagang yang menjual ikan-ikan segar hasil tangkapannya hari itu. Nyokap dan adik iparnya langsung singgah ke penjual tuna. Kami sempet heboh waktu tahu harga tuna itu cuma sepuluh ribu per kilo. Harga langka yang gak mungkin dijumpai di Surabaya (dan lagi-lagi, Sidoarjo). Gue langsung memaksa nyokap untuk beli ikan itu, secara, ini waktu yang tepat dan langka untuk menikmati ikan segar dengan harga murah! Oh! Blessed by Lord!
Akhirnya setelah puas dengan aroma air laut (termasuk beli 2 ekor ikan tuna ukuran sedang dengan harga asoy), kami sepakat untuk kembali ke rumah sepupu gue, dan bersiap untuk next target hari ini, BNS.
Salah satu hari yang indah, menurut gue, meskipun pinggang gue jadi korban karena ketololan sendiri. Seenggaknya tahun ini, liburan lebaran masih diwarnai dengan aroma air laut, sama seperti libur tahun lalu yang mengantar gue dan keluarga besar nyokap gue ke Bali, the real paradiso island. Untuk yang tahun ini, memang kesannya berbeda sih, tapi tetap have fun dan bikin hati tenang, gak bengong-bengong sendiri di rumah, ato keluyuran gak jelas ngabisin solar ke jalan-jalan sepi di Surabaya. J
I love my fam, so do they…
Arigatou..... ^^