Thursday, September 16, 2010

Paparazzi - Lady Gaga

http://www.metrolyrics.com/paparazzi-lyrics-lady-gaga.html

Uda berkali-kali lagu ini muter terus di playlist saya. Dulu sih cuma tertarik utk dijadiin ringtone krn nadanya lumayan bagus.... ee... belakangan ini jadi beneran suka karena emang liriknya yang pas... ^^

Yeap, setiap orang punya caranya sendiri untuk mengejar cintanya. Entah kenapa saya setuju dengan lagu Lady Gaga ini (mungkin karena saya bermental PAPARAZZI juga... wkwkwkwk...).

We are the crowd, we're c-comin' out
Got my flash on, it's true
Need that picture of you
It so magical, we'd be so fantastical

Leather and jeans, garage glamorous
Not sure what it means
But this photo of us it don't have a price
Ready for those flashing light
'Cause you know that baby, I

I'm your biggest fan, I'll follow you until you love me
Papa, paparazzi
Baby, there's no other superstar, you know that I'll be
Your papa, paparazzi

Promise I'll be kind
But I won't stop until that boy is mine
Baby, you'll be famous, chase you down until you love me
Papa, paparazzi

I'll be your girl backstage at your show
Velvet ropes and guitars
Yeah, cause you're my rock star in between the sets
Eyeliner and cigarettes

Shadow is burnt, yellow dance and we turn
My lashes are dry, purple teardrops I cry
It don't have a price, loving you is cherry pie
Cause you know that baby, I

I'm your biggest fan, I'll follow you until you love me
Papa, paparazzi
Baby, there's no other superstar, you know that I'll be
Your papa, paparazzi

Promise I'll be kind
But I won't stop until that boy is mine
Baby, you'll be famous, chase you down until you love me
Papa, paparazzi

Real good, we dance in the studio
Snap, snap to that shit on the radio
Don't stop for anyone
We're plastic but we still have fun

I'm your biggest fan, I'll follow you until you love me
Papa, paparazzi
Baby, there's no other superstar, you know that I'll be
Your papa, paparazzi

Promise I'll be kind
But I won't stop until that boy is mine
Baby, you'll be famous, chase you down until you love me
Papa, paparazzi...

The Flames of Rome


Novel dokumenter setebal 381 halaman karangan Paul L. Maier ini patut diberi acungan jempol. Kisah historis bangsa Roma mulai tahun 47 Masehi ini dikemas dengan apik dalam mengungkapkan perpaduan kisah asmara, kepahlawanan, kesetiaan, dan intrik-intrik istana.

Beberapa tokoh terkenal di jaman itu, seperti Claudius Caesar, Aulus Plautius, Flavius Sabinus, Nero, hingga yang terfenomenal Paulus, turut ambil bagian dalam menghiasi cerita yang sebagian besar berdasarkan fakta. Intrik pembunuhan yang terjadi di istana Palatino, pengkhianatan yang dilakukan istri Claudius—Messalina—serta bagaimana tindakan gila Nero ketika merasa keeksistensiannya sebagai kaisar Roma terancam oleh ibu kandungnya sendiri, tertulis rapi dan disertai beberapa catatan penting yang menunjukkan keabsahan ceritanya. Ada pula cerita tentang sikap negarawan sejati yang ditunjukkan oleh Aulus Plautius dan Flavius Sabinus, serta beberapa tokoh protagonis lainnya yang menginginkan kesejahteraan Roma dalam segala hal, begitu juga dengan kisah pembelaan terhadap anggota kaum Kristiani—termasuk pembelaan Rasul Paulus—yang cukup cerdik dan mengagumkan.

Secara keseluruhan, novel ini mendapat banyak pujian dari beberapa kalangan, seperti Christian Observer, Los Angeles Time, Redbook, dan juga The New York Times. Terbagi menjadi 2 jilid dimana Maier menjamin anda yang gila membaca novel dan cerita-cerita sejarah akan bertahan sampai mencapai halaman terakhir.

Akhirnya, 3 kata umum untuk novel ini…

Two thumbs up!

Tuesday, September 14, 2010

Shin’s Short Story - Sempu Island

Pulau Sempu—ato orang-orang keren menyebutnya : ‘Sempu Island’—ditempuh dalam waktu satu jam dari kota kecil Turen di kawasan Malang selatan. Melewati jalanan sempit yang meliuk-liuk dan kurang aman lantaran tidak tersedianya pagar pembatas jalanan. Untungnya pagi itu langit masih cerah, bersahabat, dan dari atas gunung kita bisa melihat lembah kawasan kota Turen yang asri.

Sempet berpikir ‘aneh’ karena demi mencapai laut selatan, kenapa mesti capek-capek muter-muter di gunung kayak orang mabok. Seumur-umur gue tinggal di deket laut, baru kali ini ngerasain penderitaan jiwa dan batin (karena ngeri ngeliat ruas jalanan yang sempit dan ‘mengundang’ untuk ke alam maut) hanya untuk menikmati pesona laut dan bau amis di pinggir pantai. But, thanks to God, kami berhasil tiba di pantai Sendang Biru dalam keadaan selamat, aman, sentosa, dan tanpa embel-embel ‘oek-oek’ di sepanjang perjalanan.

Setibanya di Sendang Biru, adek bokap gue menyeret kami ke rumah pensiunan petugas restorasi pulo Sempu yang punya hubungan akrab dengan mendiang kakek gue. Dan gue teringat cerita bokap tentang kakek gue yang uda pengalaman dan apal seluk-beluknya Sempu.

“Pulau Sempu sih daerah kekuasaannya mbah waktu itu…”

Sempet gue ngerasa jadi cucunya kaisar Nero selama beberapa milisecond.

Di rumah kerabatnya mendiang kakek gue itu, kami cuma bertamu sebentar lantaran uda ga sabar untuk keliling-keliling Sendang Biru. Di luar sana, Pulo Sempu sudah berpose menantang untuk meminta dijelajahi oleh para pengunjung yang kebanyakan dari luar kota.

Dengan bantuan koneksi dari kerabat kakek gue itu, kami berhasil mendapatkan perahu sewa untuk menyeberang ke Sempu. Dengan harga 100 ribu rupiah untuk pergi-pulang, gue pikir itu harga yang cukup sesuai untuk tempat wisata di ujung Pulau Jawa (secara, Sempu bukan pulau milik Bali, dan—mungkin harganya akan melonjak sampe setengah juta kalo suatu hari Sempu diklaim jadi bagian pulau Dewata). Seandainya dulu kakek gue gak dikirim ke Pulo Sempu, ato beliau gak bersahabat dengan petugas restorasi itu, mungkin kami harus membayar sampai 300 ribuan demi menyeberang ke pulo Sempu.

Sebelum menyeberang, bokap sempet omong-omongan dengan petugas restorasi pulau Sempu yang gak gue ketahui namanya lantaran lambang-lambang di baju dinasnya udah memudarkan diri. Petugas itu menambahkan cerita serem sebelum mengantar kami ke tempat persewaan perahu.

“Tahun 2008 pernah ada kejadian, pak. Ada yang meninggal karena tenggelam di sana…”

Wussshhhh~~~

Akhirnya setelah masing-masing pihak sepakat, kami segera bergegas menuju tempat perahu dan bersiap menyeberang ke Pulo Sempu yang dalam bayangan gue seperti serpihan surga yang penuh dengan privatisasi, ketenangan, kesejukan, dan air yang jernih. Gue mengambil tempat duduk tepat di depan mesin diesel perahu—dan betapa gue menyesali keputusan tolol itu karena sesaat kemudian cuma terdengar suara ‘etek-etek-etek’ yang super kenceng di telinga gue. Orang-orang di samping gue berbicara gak jelas, cuma megap-megap kayak ikan keabisan napas, dan gue gak bisa kasih respon lain selain angguk-angguk ato geleng-geleng mirip miniatur doggie di mobil-mobil. Toh, gue juga gak ngerti apa yang mereka omongin dan apa yang gue jawab.

Pusing-pusing mikirin suara mesin diesel, otak gue tiba-tiba memunculkan playlist keren yang berjudul Club can’t handle me punya Flo Rida dan David Guetta. Trus ganti track ke Stand By Me-nya SHINEe yang ngisi soundtrack BBF pas adegan mereka pergi ke pulau pribadinya Goo Jun Pyo. Sempet ngerasa setengah norak, tapi, hey! Gak ada undang-undang yang melarang gue untuk merasa seolah-olah ada di luar pulau Jawa, iya ‘kan?!

Asli! Rute perahu ke pulau Sempu seharusnya cuma menyeberang secara vertikal yang mungkin dalam lima menit sudah sampai, tapi kali ini kami diputer hampir mendekati laut pantai selatan dan akhirnya mengambil rute di seberang pantai Sendang Biru yang sejak tadi kami singgahi. Rute yang ruwet, tapi setara dengan harga yang dibayar. J

Setibanya di pulo Sempu, gue cuma bisa cengar-cengir a la Justin Bieber (J) dan mendapati kenyataan yang tidak sesuai harapan. Pulo Sempu sudah disinggahi banyak orang, banyak anak kecil, dan bentuknya gak seperti yang di foto-foto turis lokal. This is not a paradiso island! Bahkan kami mendapat tempat untuk menggelar karpet di tumpukan batang kelapa yang mungkin bekas membakar ikan. Menyedihkan!

Sayangnya lagi, garis pantai di sepanjang pulo ternyata cuma sekian meter dan dibatasi dengan pohon-pohon yang melintang seenaknya. Uh! Okelah, seenggaknya gue masih bisa pamerin ke temen-temen kalo gue udah sampe di Sempu.

Gak banyak yang kami lakukan di sana, cuma makan rujak buah, ngeliatin pengunjung yang asyik lempar-lemparan pasir, kakek-kakek tua yang ngelatih suara seriosanya sambil berendam di laut (Oom gue bilang, jangan sampe Nyi Loro Kidul bangun dari tidurnya gara-gara denger suara orang itu), anak-anak yang manjat pohon, nangkep ikan kecil-kecil, dan sebagainya. Gue sendiri gak ada keinginan untuk berenang karena lautnya kurang ‘menantang’ jika dibandingin di pantai Kuta. :p

Dari Sempu, tampak pulau-pulau tak berpenghuni di seberang, masih hijau dengan pepohonannya yang kaya macam dan jernih tanpa ada asap kendaraan bermotor. Air laut yang berwarna kehijauan juga turut menambah sedap pemandangan langka yang gak mungkin ditemui di Surabaya (ataupun Sidoarjo). Aslinya, tempat ini bisa jadi tempat sempurna untuk melahap habis The Flames of Rome yang baru gue beli beberapa hari yang lalu, tapi setelah banyak berpikir tentang cipratan air laut dan butir-butir pasir yang sanggup merusak benda favorit gue itu, akhirnya gue putuskan untuk meninggalkan buku itu di jok mobil di seberang sana.

Yah, memang gak banyak yang kami lakuin selama di Sempu, bengong-bengong gak jelas, foto-foto, manjat pohon (sampe akhirnya gue menjatuhkan diri—berlagak jadi superhero—yang langsung bikin pinggang gue encok, ngilu sampe gue menulis cerita ini), duduk-duduk nunggu dijemput perahu, ngerendem kaki di air laut, denger musik, melamun, cengar-cengir tebar pesona ke pengunjung yang baru datang, dan sebagainya-dan sebagainya. Tepat pukul setengah satu siang perahu yang tadi melempar kami ke Sempu, datang dan kembali mengangkut kami ke pantai Sendang Biru di seberang sana. Rutenya kali ini jauh lebih singkat karena menerapkan prinsip yang gue pikirkan tadi, sekali nyeberang dengan rute vertikal!

Berhubung pinggang gue sakit—gue jadi males keliling-keliling dan ngapa-ngapain lagi. Pikiran di otak gue cuma satu, kasur dan bantal di rumah, lalu segera cabut ke BNS. Yuhuuu! Tapi nyokap gue minta dianterin ke pasar ikan yang letaknya bersebelahan dengan Pantai Sendang Biru. Karena gue juga termasuk penggemar ikan, gue setuju dan ikut memohon pada bokap untuk mampir ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Setibanya di sana, pasar sudah dalam keadaan sepi, tapi masih ada pedagang-pedagang yang menjual ikan-ikan segar hasil tangkapannya hari itu. Nyokap dan adik iparnya langsung singgah ke penjual tuna. Kami sempet heboh waktu tahu harga tuna itu cuma sepuluh ribu per kilo. Harga langka yang gak mungkin dijumpai di Surabaya (dan lagi-lagi, Sidoarjo). Gue langsung memaksa nyokap untuk beli ikan itu, secara, ini waktu yang tepat dan langka untuk menikmati ikan segar dengan harga murah! Oh! Blessed by Lord!

Akhirnya setelah puas dengan aroma air laut (termasuk beli 2 ekor ikan tuna ukuran sedang dengan harga asoy), kami sepakat untuk kembali ke rumah sepupu gue, dan bersiap untuk next target hari ini, BNS.

Salah satu hari yang indah, menurut gue, meskipun pinggang gue jadi korban karena ketololan sendiri. Seenggaknya tahun ini, liburan lebaran masih diwarnai dengan aroma air laut, sama seperti libur tahun lalu yang mengantar gue dan keluarga besar nyokap gue ke Bali, the real paradiso island. Untuk yang tahun ini, memang kesannya berbeda sih, tapi tetap have fun dan bikin hati tenang, gak bengong-bengong sendiri di rumah, ato keluyuran gak jelas ngabisin solar ke jalan-jalan sepi di Surabaya. J

I love my fam, so do they…


Arigatou..... ^^

Tuesday, April 14, 2009

Haaaaaahhhh...

Haaah...
Today at 17:01
Hari ni bener2 hebat... tapi kelewat lebay... hakhakhakhak...

dari jam pertama kuliah, kena PBO, ada beberapa kejadian yg bikin gue sanggup ngakak sampe detik ni. Mulai dari DjAGE yang digebuk Marol pake BUKU AIS yang tebelnya mungkin setara sama 2 Potter yang disejajarin.... [wew.. gag heran deh klo besok si Djage hilang ingatan....]

trus, monitor si Teddy yang 'menciut' tanpa sebab. Tapi berkat petuah Ananta ("pukul aja monitor tu..."), permasalahan tu sanggup diselesaikan... wakwakwkawakwak...

TRUS ada quis PBO, sempat planga'-plongo' gag jelas sama marol, pake ilmu kira-kira, dan hasilnya kacau balau....

abis tu masuk ke PSI, dapet jatah maju ngejawab soal2 dari Mam Lisana.. hikshikhikhikhisk.... udah amburadul inggrisnya, grogi stengah mati, tengsin gag keitung (jatuh dah harga diriku di depan bu lisana... T.T), tapi masih untung dpt nilai yg lumayan... (lumayan kurang memuaskan...T.T)...

trus.... [prepare for physic]... bukannya serius belajar, eee.. malah ikutan maen capsa sama Marol, Hen-Go, Ronny, n Ananta... wahwahwahwah... akhirnya pas ulangan, BLANK smua! [mampuslah...]

trus... pas pulang (berhubung naek angkot, jadinya pulang duluan), dapet kursi yang nge-link langsung ke sinar matahari... mana kena macet pula! AAAAAAAAARRRRRGGGGHHHHHHHHH...........

Tapi gpp lah... selama masih selamet sampe rumah... wakwkawak...

:D GBU!

[Prepare hari ni... Quiz kalkulus 2 besok... aarrrghhh.... [ajal menanti... T.T]...]

Saturday, March 28, 2009

HENING CIPTA

Setelah beberapa jam tidak bertemu, kaum mahasiswa Informatika Ubaya akhirnya kembali bergabung dalam dunia maya, membicarakan ini-itu dalam conference YAHOO Messengger.

Dalam pembicaraan gila-serius-sarap ini, beberapa rencana mulai terjadwal pada tiap2 anggota conference. Salah satunya sudah terjadi beberapa menit yang lalu, yaitu Vany Hosen mengubah namanya menjadi Vany Ang.

Lalu ada rencana pernikahan yang akan diselenggarakan bulan depan, tepatnya tanggal 10 April, dimana saudari kita - Yuliana a.k.a Bolank akan menikah dengan SONIC si Rambut Berladang Jagung, dan dapat dipastikan akan menggelar pesta makanan enak untuk teman-temannya.

di tengah-tengah chat, Devo dan Silvi ijin membeli makanan demi memenuhi tuntutan lapar dari perut mereka. kasihan juga sih... ketinggalan info keren... wakwakwakwakwak....

Sempat beberapa kali terjadi aksi 'hening cipta' dari para anggota chat, sampai akhirnya tercetus sinetron HENING CIPTA yang ditargetkan akan menembus sesi 5 dan panasonic award untuk mengalahkan cinta fitri...

Mulanya, beberapa orang mulai cemas dan khawatir kalau sinetron dadakan ini tidak akan bertahan sampai sesi 5, tapi baru beberapa menit diluncurkan, sudah mulai bergerak sampai sesi 4.. prestasi yang luar biasa....

Yaah... doakan saja supaya HENING CIPTA ini sukses dan berhasil meraih panasonic award dalam kategori : sinetron dadakan sukses....

^.^

ICIL 2

(Sebelumnya, minta maaf dulu karena posting kali ini berisi amukan... (hehe...). Maklum, lagi tergerak untuk ngomel-ngomel, maki-maki, menghujat (wuih...sadis...), dan yg buruk-buruk lainnya.)

Aaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrggggggggggghhhhhhhhhhh!!!!

Berita duka!!!

Udah ditunggu2, sampe mesti kosongin jadwal (cieileh!), rela bagi2 channel, gag taunya malah ber-ending menyedihkan... tragis!

Gak tau kenapa, tp kok gw ngerasa klo ada yang salah dari orang2 jaman sekarang. Di mana nilai seni kalian?????????

huh!

Sudahlah.... kayaknya bangsa indonesia perlu di-tutor tentang pelajaran seni deh... sampe segitu parahnya milih idola cilik... T.T... hiks....

yaaah... tetep semangat aja buat Patton, n buat Debo, selamat... tapi mendingan banyak2 latihan deh... biar gag kalah dari Patton....

:(